Terbaru

Saat Dia Mencongkel Matanya

Seorang lelaki berlari telanjang dada setelah mencongkel kedua matanya
Dia berlari dan kehabisan napas di ujung gang
Aku menangkap tubuh kurus sebelum tanah memeluknya
Kenapa?
Dia terengah
Darah dari matanya jatuh ke tanah dan tumbuhlah semak bunga
Bola mata digenggaman
Jatuh dan jadilah jadilah pohon ara
Kenapa?
Dia terengah
Keringatnya menetes ke tanah dan jadilah telaga
Liurnya menetes
dan jadi mutiara
Kenapa?
Dia terengah
Apakah kau bodoh, anak muda?
Suatu saat kau akan berdoa dengan tangan kotor
Bahkan di saat kau memejamkan mata kau akan teringat.
Kenapa?
Karena aku malu melihat diriku sendiri di cermin
Karena cinta sudah tidak menemukan pengampunan
Dan karena aku enggan melihat diriku
Berbaju gamis bak alim ulama
Tapi mulutku menggunakan dalil dari ayat-ayatNya untuk melindungi kepentinganku sendiri

Dan kau masih tanya kenapa?

Tgr, 22 Agustus 2011

Ia

Tak ada seorangpun yang ingin kecewa.

Ia tidak ingin pulang.

Aku lelah dengan telepon, sms, chatting. Aku ingin bersamamu utuh. Aku capek tersenyum pada sebuah kotak yang tidak membalas senyumku, aku capek bercumbu dengan benda. Aku capek menjadi bayang-bayang, karena saat malam membunuh senja, kamu dan aku akan kembali ke ketiadaan. Aku ingin kita ada.

Tahukah kamu, Cinta. Kamu harus pulang. Waktu yang mengharuskan begitu, kamu akan terbang, di telan awan. Kamu dan aku akan kembali menjadi tidak nyata.

Ia berusaha tersenyum, tentu saja dipaksakan. Agar aku tidak menjadi sedih karena kesedihannya. Agar aku tidak menjadi muram saat bekerja. Agar aku tahu bahwa Ia senang menghabiskan waktu bersamaku di saat istirahat makan siang yang cuma sebentar. Aku dan Ia tidak pernah benar-benar bahagia, Aku tidak pernah benar-benar punya waktu untuknya. Apa aku cinta kamu? Ya, tentu saja! Banget! Tapi tentu saja, cinta dan waktu tidak bisa berjalan beriringan. Waktu pun kucuri-curi, kusempat-sempatkan. Dulu, di awal hubungan kita, Kau pernah berkata bahwa waktuku akan terbagi antara pekerjaan, anak, dan keluarga (yang mungkin Kau maksud suami, hanya saja Kau terlalu sopan untuk mengatakannya) jadi hampir mustahil ada waktu untukmu. Tapi tidak. Aku cukup cerdik untuk menyempatkan.

Di sela-sela waktuku yang dibeli oleh pekerjaan, aku sempat menelponnya, sambil berbisik-bisik mengatakan I love you, Sayang, Cinta. Sambil memencet tombol keyboard, memasukkan data, wajahku tegang saat Ia mencumbuku lewat telepon, sms, chatting. Juga tangis, yang tertahan, saat Aku dan Ia bertengkar. Tahu gak, aku capek serba menahan! Aku ingin lepas saat kau mencumbuku, aku ingin lepas mendesah, mengerang, menggigit bibit, merengkuh badanmu. Aku ingin menangis terisak tanpa harus sesak menyembunyikan. Bukan kau saja, Aku juga capek!

Aku capek, sebisa mungkin aku tidak berbohong. Aku hanya diam, menutupi, mengelak dari pertanyaan-pertanyaan. Tapi, untunglah Dia bukan suami yang banyak tanya. Dia juga menghindar dari jawaban-jawaban yang tidak diinginkannya. Menghindar dari kritik yang menjatuhkan wibawanya, Dia berusaha jadi perfect gentlement di mata siapapun, walaupun banyak tindakan-tindakannya yang tidak gentle. Aku tidak lagi mencintai Dia, walaupun hubunganku dengannya normal-normal saja, seperti suami-istri pekerja pada umumnya. Tidak pernah ada masalah yang dianggap, tidak pernah ada masalah yang diselesaikan. Karena kami menghindari konflik, kami lebih banyak diam bila tidak puas.

Dia orang baik, dan itu masalahnya. Aku tidak punya alasan meninggalkan Dia untuk hidup bersama Ia. Seandainya aku menikahi bajingan, seandainya Dia memperlakukan aku dengan kasar, seandainya Dia tidur dengan perempuan lain di belakangku. Seandainya, seandainya dan seandainya. Maka aku dengan mudah berkata, aku tidak ingin lagi hidup bersamamu.

Atau aku akan berkata, aku ingin sudahi pernikahan kita ini.

Atau berkata, aku ingin kau ceraikan aku.

Atau, meraung marah karena foto mesranya dengan perempuan lain.

Tapi tidak, Dia suami yang baik, walaupun malas, walaupun mementingkan kesenangannya sendiri. Dia tetap suami yang baik.

Ia berbeda. Ia selalu kusut, sering cemberut, sensitif, tapi Aku tenang bersama Ia. Aku cintai ketenangan yang diberikannya. Ia seperti angin, seperti laut.

Sayang, kenapa diam? Kita kembali ke kantormu sekarang?

Aku menggeleng. Memeluk pinggangnya. Aku belum ingin kembali ke kantor, kataku.

Tidak bisa ditebak, itulah Ia, dan aku selalu hanyut dalam sikapnya. Moodnya yang cepat berubah membingungkanku, aku harus hati-hati berkata-kata di depannya. Seperti saat ini, Ia yang biasanya bercerita, mendadak jadi pendiam, hingga seolah aku duduk di samping Dia. Kenapa? Ada apa? Apa Ia tetap tidak ingin pulang?

I love you. Aku mencium pipinya.

Saat Ia menatap mataku. Aku melihat mendung. Melihat gerimis. Aku tahu Ia tidak bahagia. Ia melihat jam tangannya, Aku merasa waktu seperti akan memutus kebersamaanku dan Ia.

Ingin kucium saja bibirnya, kalau itu bisa membuatnya bahagia. Tapi kami memang tidak pernah benar-benar bahagia. Aku tidak tahu bagaimana cara Ia menghadapi kenyataan sehari-hari. Yang aku jelas tahu, aku tidak menikmati lagi kehidupanku dengan Dia. Aku selalu membayangkan Ia, membayangkan ketidakbahagiaannya, apa yang Ia lakukan untuk mengisi kekosongannya. Aku selalu mengingat wajahnya, bahkan saat aku dan Dia bercinta di atas ranjang yang dulu kami pakai saat malam pengantin. Aku tidak pernah lagi menikmati saat Dia merayuku, mencumbuku, bahkan aku merasa sakit. Dalam melayani Dia aku menolak. Aku merasa diperkosa, tanpa Dia sadar soal hal itu. Aku membayangkan bagaimana rasanya bercinta dengan Ia, Ia dan hanya Ia.

Saat Dia tertidur kelelahan, setelah puas. Aku menangis. Aku menangisi ketakutanku. Aku takut. Mulutku beku setiap kali menolak keinginannya. Semangatku surut saat ingin mengatakan aku ingin Dia pergi dari hidupku. Aku enggan meninggalkan kenyamanan yang kudapat dari pernikahanku dengan Dia, aku tidak berani keluar dari kemapanan keluarga kami.

Sayang?

Elusan tangannya di punggungku menarik diriku kembali ke kenyataan. Hem?

Kamu harus kembali ke kantormu, sekarang.

Aku menunduk. Bagaimana dengan Kau, Sayang? Aku mengenggam tangannya. Ia berkata bahwa ia akan pulang. Tidak ada lagi yang bisa dilakukannya di sini. Aku menunduk makin dalam. Kau akan kembali ke sini lagi, kan? Aku berharap Ia berkata ya.

Kita lihat saja nanti, sayang.

Aku menangis. Jangan tinggalkan aku sendiri. Ia tersenyum dan menggeleng. Aku tahu Ia hanya menyenangkan hatiku. Sorot matanya tidak bahagia. Tapi, bukankah kami memang tidak pernah benar-benar bahagia, kecuali saat bersama? Bukankah Aku dan Ia hanya ingin bahagia?

Waktu telah benar-benar menjadi pemutus kebersamaan kami. Dan aku masih saja menangis, saat mencium tangannya, airmataku jatuh ke sana. Saat mencium pipinya, airmataku ada di dadanya. Aku melihatnya pergi. Terus memandangi punggungnya. Ia tidak pernah menengok ke belakang. Tapi aku berharap, untuk sekali ini saja Ia menengok. Tapi Ia tetap seperti angin, seperti laut, berjalan maju tanpa pernah menyurutkan langkah. Dan aku melihatnya hilang.

Malam ini, aku berbaring di samping Dia, di dalam kamar yang dulu menjadi kamar pengantin kami. Di atas ranjang yang dulu menjadi ranjang pengantin kami. Sambil membayangkan bahwa Ia dan bukan Dia, saat Dia memelukku. Merasakan hangat bibirnya, saat Dia mencium bibirku. Merasakan Ia berada di atasku, di dalamku, saat Dia bercinta denganku.

Aku terbaring dan tertidur kelelahan, puas berulang-ulang. Tanpa tahu handphone yang ku silent berdering terus menerus. Tanpa tahu sms berisi berita duka tentang Ia, ditujukan padaku.

Yang aku tahu, Ia yang tertidur di sampingku, bukan Dia.

Yang aku tahu Ia yang memeluk tubuhku, bukan Dia.

Yang aku tahu, sekarang kami benar-benar merasa bahagia.

Sedati 26 Mei 2011 – Serpong 6-8 Juni 2011.

Sepenggal Kisah Lawu

Sabtu, 6 Mei 1995.

Malam gelap, dingin dan sunyi. Semak belukar dan pepohonan menjelma menjadi bayangan suram dan beku. Langit yang gelap hanya berhias pernik-pernik pucat sinar bintang-bintang.

Ah, tenda kita seperti debu, berada di tengah hutan luas ini.

Perlahan, halimun menyelimuti malam semakin kelam, dengan tenang melewati sela-sela pakis dan pinus. Merayap pekat mengurung seluruh lereng gunung. Seiring dengan hawa dingin yang datang menusuk, menembus jaket, baju hangat, bahkan kulit kita.

Kita sendirian, berada di tengah hutan ini, dan hanya bisa pasrah pada apa yang akan ditimpakan pada kita. Ketakutan itu selalu ada walaupun kepasrahan selalu mengalahkannya. Inilah alam, kekasihku. Yang selalu ingin kutunjukkan kepadamu. Inilah hutannya, tempatku bergumul, mencintai segala penghuninya.

Selamat datang di Cemoro Sewu, Sayang. Tempat pertama kali aku dididik oleh gelap hutannya, pekatnya halimun, dan dinginnya malam yang membuatku ingin menangis dan berlari pulang mencari kehangatan. Inilah Lawu, gunung tempat sejuta legenda dan folklore mendarah daging bagi manusia yang tinggal di dekatnya. Tempat nyepi, tirakat demi mengasah batin bagi masyarakatnya. Jangan sembarangan, di sini tersebar segala tempat yang wingit dan angker, di rimba tak bertuan.

Keluarlah kau dari tenda, dan duduklah di sampingku, Dik. Ayo sama-sama kita nikmati dinginnya malam. Aku temani kau menjerang air untuk bikin wedang kopi. Ah, wajahmu takut-takut memandang bayangan beku pohon-pohon itu. Tenanglah, mereka sedang berbisik, dengan bahasa yang mereka mengerti. Tak usahlah kau cemaskan malam yang gelap ini. Nikmati saja kerlap-kerlip bintang di atas kita, dalam diam. Ya, dengan diam. Kita bicara berbisik saja. Kita akan bicara apa saja, yang kita suka. Tentang kita, tentang hidup dan masa depan kita. Karena hanya di sini kita bisa merdeka, dan merencanakan masa depan kita. Nanti, saat kita pulang ke kota, kita akan tahu bagaimana kelanjutan hubungan kita.

Berbincang denganmu selalu menyenangkan, Dik. Selalu membuatku lupa waktu karena hanya kau yang selalu bisa memancingku bercerita tentang apa saja, bahkan yang tidak ingin kubicarakan. Tanpa terasa waktu berjalan, sudah semakin malam, dan kita masih saja duduk di luar tenda. Ayo kita masuk saja, sebelum kita makin menggigil kedinginan. Nyanyian serangga-serangga malam itu akan jadi musik pengantar tidur bagi kita.

Gemerisik semak-semak di luar tenda selalu membuatmu terjaga. Tenanglah sayang, mungkin hanya binatang yang sedang cari makan. Tidurlah lagi, jangan kau ganggu mimpi-mimpimu. Biarkan nyala lampu minyak menjadi pelita yang terangi hatimu.

Minggu, 7 Mei 1995.

Pagi ini, matahari kurang bersahabat dengan kita. Dia lebih senang mengijinkan mendung menutupinya, mungkin akan menurunkan hujannya. Sepagi ini mungkin kita hanya akan bisa sembunyi, berteduh di dalam tenda. Tidur-tiduran sajalah, berbaring melepas lelah setelah perjalanan dari Surabaya kemarin. Kau rebahkan kepalamu di dadaku, dan aku merasa bangga. Bangga dan bahagia, kau bisa melewati ketakutanmu semalam. Kini saat jauh dari pandangan mata orang-orang yang mengenal kita, aku bisa memelukmu, hal yang tidak pernah dan tidak bisa aku lakukan. Tidak bila kau dekat dengannya, dan aku terlalu pengecut untuk merebutmu. Kini, aku senang bisa melihat wajahmu berseri. Kau betul-betul menikmati pagi yang mendung ini.

Menjelang siang, hujan telah reda. Kau segera keluar dari dalam tenda. Katamu kau ingin melihat indah bias titik air hujan yang masih menggantung di pucuk-pucuk daun. Aku tersenyum, melihatmu kegirangan dengan mainan barumu. Sesuatu yang tidak pernah kau lihat di kota.

Sepertinya kau sudah lapar. Dan aku berkeras ingin memasak untukmu, walaupun tak mampu, karena aku ingin membuatmu nyaman di sini. Kau mengacuhkanku, dan tetap memasak sendiri. Ah, kau memang keras kepala. Segera kau memasak beras dan mie instant yang kau bawa, segarnya bau tanah sehabis hujan gerimis dan bau parafin yang menyengat membuatku semakin lapar. Tak lama makanan telah siap. Dengan lahap kau memakannya, tapi kemudian aku ingin tertawa, melihat ekspresi wajahmu yang memakan mie instant dan nasi setengah matang yang bercampur bau parafin.

Matahari sudah semakin tinggi, bayang-bayang tubuh kita sudah condong. Sebentar lagi senja datang. Kita harus segera berkemas, dan bersiap berangkat menembus hutan untuk sampai ke puncak. Jangan terkejut, Sayang. Kita akan berjalan menapaki malam, untuk dapat melihat indahnya matahari terbit di puncak Hargo Dumilah. Ayolah kita bersiap. Jalan begitu panjang, mendaki dan akan begitu gelap. Kuatkan dirimu, tabahkan hatimu.

Minggu malam, 7 Mei 1995.

Kita berdua berjalan beriringan, di atas batu-batu jalan setapak, kita berjalan membelah malam. Lemah sorot lampu senter yang kau bawa, seperti nyala kunang-kunang di tengah kegelapan hutan. Tubuhmu yang kecil seperti hilang diterkam berat carrier yang kau gendong. Langkahmu kukuh walau terseok. Aku yakin beban itu pasti berat, walau sebagian besar beban itu sudah ada di punggungku. Wajahmu makin pucat dan napasmu pun terengah. Kakimu makin gemetar menahan beban berat. Kelelahanmu membuatku menghentikan langkah, dan kau berdiri diam bersandar pada tubuhku, dengan tangan berpegangan pada pundakku.

Biarkan aku berhenti sejenak, bisikmu. Aku pun mengangguk mengiyakan. Sudah jauh kita melangkah, tak ada salahnya beristirahat sebentar. Aku tidak mau memaksamu berjalan, aku tidak mau mengukurmu dengan kekuatanku.

Kita naik sedikit lagi, akan ada tempat beristirahat di sana. Kau bisa duduk dan berlindung dari rasa dingin. Ayo! Kuatkanlah dirimu.

Sudahlah, kita berhenti saja di sini. Sebentar lagi kita sampai ke puncak, dan tak akan ada gunanya memburu waktu, bagaimanapun juga matahari akan tetap terbit dan dia tidak akan menunggu kita. Lupakan saja melihat keindahan semburat warna merah di ufuk timur. Kita bisa melihatnya di lain waktu. Turunkan beban yang kau bawa, Dik. Kita istirahat di sini.

Aku duduk memeluk dirimu yang kedinginan. Dinginnya memang menyiksa, membekukan hidung sampai ingus mengalir tanpa kita sadari, dan kita jadi susah bernapas. Kau duduk memeluk lututmu, gemetar, gemelutuk suara gigimu masih kudengar sampai suara isakan lirih dan tertahan menggantikannya.

Menangislah, agar lepas semua beban dihatimu.

Menangislah dan lepas topengmu di sini. Aku pun akan melepas topengku yang nanti akan kita pakai topeng itu saat pulang ke kota.

Sadarkah dirimu bahwa kita masing-masing sembunyi di balik topeng-topeng kita? Kita sembunyi di balik tembok-tembok rumah kita, berpura-pura sebagai manusia sempurna yang memiliki keluarga bahagia. Tahukah dirimu bahwa semua topeng-topeng yang kita pakai itu perlahan-lahan akan remukkan jati diri kita. Sehingga aku dan kau akan lebur menjadi debu dalam kepalsuan hidup kita masing-masing dan kita tidak bisa menjadi satu.

Menangislah, lepaskan semua di sini.

Senin, 8 Mei 1995.

Matahari sudah memulai tugasnya, sementara kau masih tertidur setelah lelah berjalan dan letih menangis. Masih tertidur dalam pelukanku. Kemudian kau terbangun dengan rasa kecewa dan bersalah karena kalah berpacu dengan matahari. Biarlah, kita masih bisa menikmati keindahan yang lain. Dengan tubuh yang masih kaku kedinginan, kita melangkah lagi. Kali ini langkahmu lebih ringan setelah semua beban dalam hatimu larut keluar bersama air mata.

Bisakah kau rasakan? Seperti kita sedang berjalan di alam lain. Indah, memukau dan berbahaya.

Waspadalah, dibalik keindahan itu, sering terdapat petaka yang tersembunyi menerkam mereka yang lengah.

Inilah, tanah di balik awan yang sering kuceritakan padamu. Yang menurutmu aku hanya membuang-buang waktuku harus berlelah-lelah untuk bisa menikmatinya. Apa pendapatmu setelah melihatnya sendiri? Bukankah lelah hanya tebusan untuk menikmati keindahan ini? Inilah mimpiku sejak masih kanak-kanak, negeri dengan rumput-rumput pucat yang membuat lembah-lembah seperti hamparan perak. Dan langit yang begitu dekat seolah bisa kuraih.

Sebentar lagi kita akan tiba di Sendang Drajat, sumber air yang konon tak pernah kering walau kemarau. Tunggulah di situ! Aku akan turun mengambil airnya. Mungkin kita tidak akan pernah kembali lagi ke sini, jadi bolehlah kita meminumnya untuk menghilangkan haus, dan menikmati kesejukan air kehidupan, anggap saja hadiah dari gunung ini untuk kita.

Lihatlah, Dik! Puncaknya sudah menunggu kita. Setelah melewati Hargo Dalem, kita akan tiba dipertigaan, kalau kita berjalan lurus mengikuti tanda panah itu kita akan segera tiba di Cokro Suryo. Tapi kita tidak akan ke sana, kita akan berbelok naik ke puncak, Hargo Dumilah.

Bersiaplah! Kerikil, pasir dan debu sudah menanti kita, menghadang di depan kita. Kalau kau sudah tak lagi kuat berdiri, merangkaklah! Merayap! Berjuanglah untuk naik ke puncak! Berjuang untuk apa yang kau dan aku cita-citakan. Kita sudah begitu dekat dengan tujuan kita. Semua akan terasa lebih berat karena kita sudah sama-sama lelah. Buang putus asamu!

Saat kau melihat tugu batu, itulah akhir dari separuh perjalananmu. Nikmatilah rasa lelahmu. Peluklah tugu itu, karena tidak ada yang lain di puncak yang sunyi ini, juga tidak akan ada aku, karena aku tinggal nama yang terukir.

Carilah namaku yang kugoreskan dengan sebilah pisau, ciumlah namaku, ciumlah seperti kau mencium bibirku. Temani aku dalam damainya kesunyian ini. Nikmatilah.

Nikmatilah, karena ini hanya sesaat. Nanti atau besok, kau akan pulang ke kota. Kembali dengan kehidupanmu, dan waktu akan mengajarkan kau untuk melupakan aku.

Diambil dari coretan di buku harian bertanggal 3 Mei 1995-8 Mei 1995

Surabaya, 15 Agustus 1996

Ditulis ulang: Serpong, 24 Juni 2010.

©2010. Alfa E. Aryo Sukatmo

Sayap-Sayap Icarus

Buat Rik.

Lihatlah ke batu karang itu.

Lihatlah pada lelaki yang yang termenung, diam dengan tatapan mata kosong memandang jauh ke arah horizon. Begitu beku, kulitnya berkilau disinari cahaya bulan, detil setiap uratnya nampak seperti pahatan pada patung pualam, lengkap dengan sepasang luka di pundaknya. Angin yang dingin tidak membuatnya beranjak pergi, dalam diam hembusnya menyelimuti tubuh yang berdiri tegak kukuh seperti karang, sehingga ombak dibawah sana menghiburnya dengan nyanyian sedih, yang sesekali bisa membuat lelaki itu menggumam dan menghela napas.

Gumaman yang keluar dari dari mulutnya dibawa oleh angin, jauh sampai ke seberang lautan, mengembara dan mewartakannya jauh sampai ke puncak gunung-gunung, turun ke lembah-lembah.  Menjelahahi setiap jalan di kota, masuk ke dalam gang-gang, ke rumah-rumah. Seperti epidemi, masuk ke alam tidur merebut mimpi-mimpi indah dan menjadikannya mimpi tentang kesedihan, sehingga mereka akan menangis dalam tidur tanpa tahu apa yang mereka sedihkan. Angin akan menyebarkannya, sehingga sebuah kota akan dipenuhi udara kesedihan. Orang-orang yang masih belum terlelap, mereka yang masih di jalanan, mereka yang tidak mendengar bisikan anginpun akan meneteskan air mata, kemudian mengusap-usap mata dan bertanya dengan kebingungan.

Para suami melihat istri-istri mereka menangis, sehingga mereka akan mengira bahwa istri-istri mereka menyembunyikan sebuah cerita, sebuah rahasia. Demikian juga dengan para wanita yang menangis, mereka akan melihat suami-suami mereka diam-diam menghapus air mata yang keluar. Mereka pun mengira hal yang sama. Tanpa rasa marah, tanpa curiga, mereka alan segera berpelukan dan tenggelam dalam kesedihan.

Lelaki itu akan tetap berdiri mematung di atas batu karang. Satu per satu butiran air matanya akan jatuh ke laut, menjadi sisik-sisik perak yang menari dipermainkan ombak. Sisik-sisik perak itu berpendar, seperti ribuan plankton, menari timbul tenggelam. Kemudian saat pagi tiba, sisik-sisik itu akan menguap bersama air laut. Menjadi awan, menjadi mega, dan jatuh lagi ke bumi sebagai hujan. Sehingga rumput-rumput akan mendengar cerita tentangnya, membisikkannya pada rumpun-rumpun bambu, yang segera akan menyanyikannya saat angin kembali bertiup.

Arunia berhenti bercerita untuk segelas es jeruk. Meneguknya dengan segera, menandaskan habis sampai ke  dasar gelas. Dia menghela napas, dan diam.

“Lalu..?” tanyaku, “Siapa sebetulnya dia itu?”. Arunia seperti tidak memperhatikan pertanyaanku. “Hei..hei..hei..” Aku mengoyang pundaknya, sampai dia menatapku, dengan matanya yang sendu, yang, hmm, entah kenapa aku selalu suka mata itu.

“Lalu?”, ulangku.

Arunia tertawa, “Oh ya.., cerita itu..”

Aku juga suka tertawanya, karena kemudian aku selalu memeluknya. Seperti sekarang ini.

“Kau mau dengar ceritaku tidak?” katanya buru-buru, mencegah bibirku mencium bibirnya. Aku mengambil selimut yang aku tiduri, dan menutupkan ke kepalanya.

Kami, warga kota ini memanggilnya Icarus, karena sepasang luka di pundaknya, kami terus memanggilnya dengan nama itu, sampai kami tidak tahu lagi siapa nama sesungguhnya.

Lelaki itu tidak setiap malam berdiri di atas batu karang, hanya malam-malam tertentu.  Pada hari selain malam tersebut, dia adalah manusia biasa. Memang ada yang mengatakan bahwa lelaki itu setengah peri. Entahlah, menurutku dia hanya lelaki biasa, kata Arunia. Lelaki yang mempunyai kehidupan. Dia punya teman, bahkan, dia berteman dengan siapa saja. Orang yang ramah, hanya saja dia memang pendiam, tidak terlalu banyak bicara tapi tidak ada yang mengatakan lelaki itu sombong. Dia juga bisa mencintai seseorang, bisa tersakiti, dan kau tahu.., dia bahkan berkeluarga. Setelah semalaman berdiri di atas batu karang, dia akan selalu kembali ke perempuan yang mencintai dirinya.

Lelaki itu tidak pernah sepenuh hati mencintai perempuan itu, juga tidak pernah meninggalkannya. Dia hanya mengikuti garis hidup yang telah diberikan untuknya, menerimanya dengan pasrah, menjalaninya hari demi hari selama bertahun-tahun.  Kepada istrinya itu dia selalu bercerita tentang apa saja, berbagi keluh kesah, berbagi bahagia, hanya duka yang dia simpan sendiri. Mereka dikaruniai seorang anak perempuan, dengan mata berbinar seperti bintang di malam hari, dengan rambut hitam sepekat malam, hanya kepadanya lelaki itu mencurahkan semua kasih sayang.

“Bagaimana mungkin ada hubungan seperti itu..”

Arunia memukul dadaku dengan bantal yang dipeluknya, menutupi dadanya yang telanjang. “Jangan memotong ceritaku!” ujarnya kesal. “Tahukah kau? Ada banyak hubungan seperti itu, aku tidak bilang tanpa cinta, hanya setengah mencintai.”

“Hmm, terserah kau sajalah.., aku mau dengar ceritamu.”

Ada banyak sekali hubungan seperti itu, banyak sekali orang-orang yang menikah dengan setengah cinta di hati mereka. Bahkan ada yang tanpa cinta sama sekali. Ada banyak penyebab dan alasan mereka menjalani suatu ikatan. Lelaki tersebut salah satu dari ribuan, bahkan jutaan manusia di muka bumi ini, yang menjalani hubungan seperti itu.

Kau juga pasti akan bertanya-tanya bagaimana dengan istrinya. Apakah perempuan itu juga bisa menerima keadaan seperti itu?

Arunia diam. Berpikir keras untuk menemukan kata-kata yang tepat. “Gerah betul..,” katanya. Seperti biasa, seperti Arunia yang aku kenal, yang selalu ingin mengalihkan pembicaraan bila berhubungan dengan perasaannya sendiri.

Kali ini aku tidak merespon ucapannya, tidak juga mengalihkan pembicaraan. Aku diam. Menunggu. Caraku melihat membuatnya makin gugup.

Ya, istri lelaki itu dari awal sudah tahu bahwa cinta suaminya tidak akan pernah utuh sejak mereka terikat pernikahan. Kenapa dia bertahan? Mungkin karena perempuan itu mencintai istrinya sepenuh hati. Mungkin juga karena perpisahan itu tabu baginya. Menurutku, cinta, bagi kami perempuan adalah sesuatu yang mulia. Aku tidak akan pernah tahu, dan tidak ingin berada dalam posisi perempuan itu. Walaupun bagi istri Icarus hal tersebut adalah pengabdian hidupnya, hidup bertahan dalam kondisi seperti itu tidaklah mudah. Aku, kami, tidak pernah tahu siapa cinta sejati lelaki itu. Setahu kami, dia tidak pernah mengatakannya pada siapapun. Mungkin dia berhati lembut, terlalu takut untuk menyakiti hati istrinya.

Setahu kami, pada malam-malam tertentu dia hanya akan pergi ke atas tebing karang, dan berdiri di atas batu yang sama selama bertahun-tahun, jauh sebelum aku lahir.  Aku hanya pernah melihatnya sekali dalam hidupku, saat ibuku diam-diam mengajakku pergi ke atas tebing karang itu. Kami bersembunyi tidak jauh dari tempatnya berdiri. Kalau saja lelaki itu tidak tenggelam dalam kesedihannya, tentu dia bisa melihat kami karena sinar bulan purnama. Ya, aku melihatnya, untuk kali pertama dalam hidupku aku melihat betapa kesedihan bisa begitu indah. Begitu tulus, begitu pasrah menerima. Aku mendengar ombak lautan di bawah sana mulai bernyanyi, aku masih tertegun memandangi sosok lelaki itu, sampai aku mendengar gumamannya. Air mataku mulai menetes, walaupun aku berkali-kali mengusapnya sampai lengan bajuku basah. Gumaman itu hanya samar-samar kudengar, namun aku mengerti, hatiku mendengar.

Dia menggumamkan sebuah cerita, tentang cinta sesungguhnya, cintanya, yang tak teraih, tak terengkuh. Dia bercerita tentang keabadian sebuah perasaan, yang akan terus hidup walaupun tubuhnya nanti pasti mati. Dia menangis karena kesetiaan, meminta sepasang sayap agar bisa terbang menemui kekasihnya, karena dia tahu di sana, hanya di sana dia akan merasa bahagia.

Aku memandang ibuku lewat air mata yang tak mau berhenti. Aku menarik-narik bajunya. Ibuku mematung dengan air mata menetes lebih deras dari air mataku. Angin menangis, pohon-pohon di belakang kami menangis. Dan sayup-sayup aku mendengar nyanyian, bukan nyanyian ombak di bawah sana. Lebih jauh, lebih meratap. Lebih lirih dibawa angin. Gumamannya terhenti, air matanya jatuh satu per satu berkilauan seperti sisik-sisik perak. Begitu terang, terang sampai membuatku tidak bisa melihat apa-apa lagi selain kilaunya. Aku meraih lengan baju ibuku, tapi hanya angin yang tertangkap. Mataku terpaku pada kilau sisik-sisk itu sampai aku enggan mealingkan kepala, enggan melihat kemana ibuku pergi.

Kemudian gelap.

Sisik-sisik itu menghilang, lelaki itu juga menghilang. Hanya ada aku, berlutut sendirian di balik karang di bawah sinar bulan purnama. Aku sudah akan menangis ketakutan ketika kudengar langkah kaki mendekat. Langkah kaki ibuku. Aku berdiri, berlari memeluknya. Dengan air mata yang masih berjatuhan membasahi rambutku, dia berbisik, mari kita pulang, Icarus sudah pergi, dia terbang dan tidak akan kembali. Tuhan telah memberinya sepasang sayap untuk terbang dan pulang.

Sejak saat itu kami tidak pernah melihat Icarus lagi. Orang-orang di kota mengatakan dia sudah mati, terjun dari puncak tebing karang, walaupun tak ada seorangpun yang pernah menemukan tubuhnya. Ada yang bilang ia kembali ke dunia peri, ada yang bilang melihatnya berjalan kaki meninggalkan kota kami. Aku tak pernah tahu pasti, tapi aku percaya apa yang dikatakan ibuku, bahwa Icarus telah diberi sepasang sayap dan dia terbang, pulang ke dekapan kekasihnya.

Arunia membalikkan badannya, “Aku ngantuk. aku ingin tidur”

Dia menggumam, “Aku percaya ibuku, aku percaya. Icarus terbang dan tak akan kembali. Saat warga kota kehilangan Icarus, saat itulah aku kehilangan ayahku.”

Dalam temaram lampu kamar, aku melihat sepasang luka di pungak Arunia. Seperti luka tercabutnya sepasang sayap.

Serpong, 29 Juni 2010

©2010. Alfa E Aryo Sukatmo.